Andri Hendrizal

← Kembali ke Santai Sejenak

Pengaruh 'Waktu Tanggung' terhadap Perilaku Jajan Warga Blok E: Sebuah Observasi Lapangan

8 September 2026 · tetangga

Sejak pindah ke perumahan ini, saya melihat berbagai macam perilaku warga satu blok. Ada 18 rumah yang berada di Blok E, termasuk rumah saya. Salah satu yang saya amati adalah perilaku jajan.

Sate, es dawet, bakso hingga mie tek-tek melewati blok E dengan berbagai bunyi penanda. Ada yg memukul mangkok, ada yang pakai pengeras suara. Setidaknya ada dua hal yang menarik untuk dianalisis.

Pertama, kebiasaan jajan warga blok E ternyata tidak dipengaruhi rasa. Istri saya misalnya, walau mengeluhkan rasa bakso yang dibelinya tempo hari, sore ini dia tetap berencana kembali membeli bakso itu. Jadi investasi pada rasa, mungkin tidak berdampak besar di Blok E.

Kedua, jenis makanan. Hasil pengamatan saya menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis makanan yang dominan atau jadi favorit. Tetangga ujung jalan misalnya, hampir semua jenis makanan pernah dibelinya. Begitu pula tetangga samping rumah saya, tidak menunjukkan dominansi pembelian jajanan terhadap satu jenis saja. Lantas apa faktor yang mempengaruhi perilaku jajan warga blok E? Jawabannya “waktu”.

Hasil pengamatan saya menunjukkan bahwa jika jajanan keliling lewat pada pukul 4 sore sampai 5.30 sore, maka akan banyak warga blok E yang membeli. Begitu pula jika melintas pada pukul 9 hingga 11 malam. Saya menyebutnya “waktu tanggung”.

Waktu tanggung adalah waktu yang berada di antara dua makan, sehingga kita bingung memberikan respon. Ya antara lapar tapi tidak terlalu lapar. Misalnya, jam 8 malam kemungkinan kita baru selesai makan malam, artinya jajanan yang lewat pada jam itu tidak akan menarik perhatian warga blok E. Begitu pula jam 3 sore, saat warga masih kenyang dari makan siang.

Artinya apa? Artinya penjual jajanan keliling harus memperhitungkan jam keberangkatan dari rumah serta jarak dan kecepatan kendaraannya, agar bisa sampai blok E pada “waktu tanggung”. Itu jika ingin dibeli sebagian besar warga blok E, karena perilaku jajan nampaknya menular. Satu beli, tetangga yg lain juga beli.