Kearifan Ekologi Lokal dalam Pengelolaan Mangrove
7 September 2026 · mangrove, LEK
Pengetahuan yang dipegang nelayan dan warga pesisir tentang mangrove — kapan air pasang naik lebih tinggi dari biasanya, jenis pohon mana yang tumbuh paling cepat di lumpur yang mana, area mana yang dulu jadi tempat memancing kepiting — jarang tercatat secara sistematis, meski sering lebih tajam daripada data yang bisa dikumpulkan dalam satu musim survei.
Dua jenis data, satu lokasi
Di Pangkalan Jambi, Kabupaten Bengkalis, kerja lapangan berjalan bersamaan: pengukuran ekologi standar (kerapatan tegakan, komposisi jenis, kondisi tegakan) di satu sisi, dan wawancara terstruktur dengan warga di sisi lain. Wawancara ini bukan sekadar mengobrol santai — ada daftar pertanyaan yang konsisten diajukan ke tiap responden, supaya jawaban dari satu warga bisa dibandingkan dengan warga lain, dan supaya pola yang muncul benar-benar berasal dari kesamaan pengalaman warga, bukan cara bertanya yang berubah-ubah.
Yang digali biasanya berupa kategori pengetahuan praktis: jenis mangrove mana yang menurut warga paling cepat tumbuh di substrat tertentu, area mana yang dulu produktif untuk mencari kepiting atau ikan tapi sekarang menurun, dan perubahan pola pasang-surut yang mereka rasakan dari tahun ke tahun. Riset ini didukung hibah DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, tahun 2025, untuk eksplorasi dan inventarisasi Traditional Ecological Knowledge (TEK) dalam pengelolaan mangrove sebagai upaya konservasi lingkungan pesisir di Provinsi Riau.
Mencari titik temu, bukan menang-kalah
Tujuan akhirnya bukan memvalidasi satu sumber pengetahuan di atas yang lain — bukan berarti data ekologi “lebih benar” daripada pengetahuan warga, atau sebaliknya. Yang dicari adalah titik temu: kapan pengamatan warga (misalnya soal jenis pohon yang mereka anggap paling tahan di area tertentu) cocok dengan hasil pengukuran struktur tegakan di lapangan, dan kapan keduanya justru berbeda — karena selisih itu sendiri sering jadi petunjuk penting, entah karena perubahan terjadi terlalu pelan untuk disadari warga sehari-hari, atau karena pengukuran ekologi standar memang tidak menangkap variabel yang bagi warga terasa nyata (misalnya kualitas hasil tangkapan, bukan cuma kerapatan pohon).
Menyusun gambaran pengelolaan mangrove yang memakai kedua sumber ini sekaligus — bukan memilih salah satu — adalah yang akhirnya bisa mendukung rekomendasi konservasi yang lebih kontekstual dan berbasis masyarakat, sesuai tujuan hibah ini sendiri.