← Kembali ke Tulisan

Bagaimana Mangrove Bertahan Hidup di Air Asin?

8 September 2026 · Mangrove

Jika kita melihat pesisir timur sumatera, terdapat sebuah hamparan hutan yang berbatasan langsung dengan laut. Daerah perbatasan darat dan laut seperti ini, umumnya tidak bisa ditinggali oleh tumbuhan. Lalu bagaimana bisa tumbuhan satu ini hidup di wilayah yang tergenang air laut dengan kandungan garam yang tinggi?

Tumbuhan tersebut adalah mangrove. Mangrove adalah tumbuhan yang hidup di daerah intertidal di wilayah tropis dan subtropis. Daerah intertidal adalah daerah yang dipengaruhi oleh pasang dan surut air laut, umumnya kandungan garam di tanahnya tinggi. Hal ini membuat tumbuhan lain tidak bisa hidup dengan baik. Apalagi rongga tanah atau substrat yang ada di daerah perbatasan tersebut diisi dengan air alih-alih oleh oksigen, sehingga kandungan oksigennya rendah. Namun di daerah dengan keterbatasan ini pula mangrove justru berdiri dengan gagahnya. Mangrove melakukan beberapa adaptasi dan penyesuaian sehingga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Ada yang menyimpan kelebihan garam tersebut di dalam organnya, ada yang memodifikasi bentuk akarnya sehingga memiliki saluran udara agar bisa menyimpan oksigen lebih banyak, ada yang akarnya menyembul keluar untuk mendapatkan tambahan oksigen. Masing-masing jenis mengembangkan adaptasinya sendiri-sendiri.

Tingginya kandungan garam adalah salah satu faktor yang membuat tidak sembarangan tumbuhan bisa hidup di wilayah perbatasan darat dan laut. Mangrove memiliki beberapa cara untuk mengatasi tingginya kandungan garam ini. Beberapa jenis seperti Rhizophora dan Bruguiera melakukan ultrafiltrasi di akar mereka. Melalui mekanisme ini, garam disaring terlebih dahulu di bagian membran sel korteks akar, sebelum air masuk ke jaringan mereka. Cara ini mengurangi hampir 90% garam. Beberapa spesies lain seperti Avicennia dan Acanthus, melakukan sekresi melalui kelenjar multiseluler yang terdapat di daun. Lumnitzera dan Excoecaria memiliki vakuola yang sangat besar di daun. Daun ini kemudian digugurkan setelah tebal dan berair. Sedangkan kelebihan garam pada batang, disimpan di kulit batang.

Jika tanah pertanian biasanya memerlukan penggemburan dengan tujuan menambah kandungan oksigen di tanah, maka substrat yang ada di daerah intertidal justru tidak memiliki oksigen yang tinggi. Hal ini karena ruang antar substrat yang harusnya diisi oleh oksigen, malah terisi oleh air laut. Untuk mengatasi ini, banyak jenis mangrove melakukan modifikasi akar. Sejumlah spesies memiliki akar napas dan modifikasi lain sesuai dengan jenis dan posisinya di zona pasang surut. Bagian akar pada mangrove juga memiliki jaringan aerenkim yang tebal hingga mencapai 70% dari volume akar sebagai saluran udara. Spesies seperti Avicennia juga memiliki lentisel pada bagian akar sebagai pintu masuk tambahan bagi oksigen. Sedangkan untuk menghemat air, mangrove juga memiliki caranya sendiri. Beberapa spesies seperti Sonneratia, punya stomata yang tersembunyi sebagai upaya mengurangi penguapan air. Umumnya daun mangrove punya lapisan lilin yang tebal sehingga mengurangi kehilangan air dari permukaan daun.

Kemampuan bertahan inilah yang membuat mangrove bisa menempati daerah yang tidak bisa ditempati tumbuhan lain. Ini juga adalah bukti bahwa mangrove adalah tumbuhan yang luar biasa. Lebih luar biasa lagi bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan luas mangrove terbesar di dunia. Banyak manfaat yang didapatkan oleh masyarakat pesisir dari keberadaan mangrove. Bukan hanya sebagai peredam kerasnya ombak laut, namun juga menjadi tempat berkembangnya beberapa spesies ikan dan menyimpan cadangan karbon yang mempengaruhi iklim di Bumi. Penelitian terkait fisiologi mangrove belum banyak dilakukan di Indonesia. Berbagai mekanisme adaptasi mangrove masih perlu penelitian lebih lanjut, misalnya terkait mekanisme aerasi dan peran fisiologis lentisel.

Tumbuhan ini mampu beradaptasi pada berbagai kondisi dan keterbatasan alam. Namun demikian, tumbuhan ini tentu tidak memiliki cara untuk beradaptasi terhadap tekanan manusia. Jadi lain kali kita melihat sebuah hutan mangrove, sadari bahwa ekosistem tersebut bukannya tidak memiliki nilai. Lahan mangrove tersebut bukan lahan kosong, namun ekosistem yang memberikan banyak manfaat.

Sumber dan bacaan lanjutan

Untuk mekanisme mangrove mengatasi garam, menghemat air, dan struktur daunnya:

Naskar, S. & Palit, P.K. (2015). Anatomical and physiological adaptations of mangroves. Wetlands Ecology and Management, 23, 357–370.

Untuk bentuk-bentuk akar mangrove, aerenkim, lentisel, dan cara mangrove bernapas di tanah tanpa oksigen:

Srikanth, S., Lum, S.K.Y. & Chen, Z. (2016). Mangrove root: adaptations and ecological importance. Trees, 30, 451–465.

Untuk anatomi daun dan kelenjar garam pada berbagai jenis mangrove tropis:

Vinoth, R., Kumaravel, S. & Ranganathan, R. (2019). Anatomical and physiological adaptation of mangrove wetlands in east coast of Tamil Nadu. World Scientific News, 129, 161–179.

Untuk gambaran umum ekosistem mangrove, sebarannya di dunia, dan ancaman yang dihadapinya:

Friess, D.A. (2016). Mangrove forests. Current Biology, 26(16), R746–R748